Log in / Sign up

Yuk baca referensi medika di jejaring kesehatan keluarga

Penyakit Batu Empedu

keluhan nyeri epigastrium

Penyakit batu empedu sering terjadi pada orang dewasa.  Diduga 10 hingga 20 persen dari orang dewasa mempunyai batu empedu, dimana  20 persennya menimbulkan keluhan akibat adanya penyakit yang berkaitan dengan batu empedu.

Yang dimaksud dengan PENYAKIT BATU EMPEDU adalah penyakit yang timbul akibat adanya batu empedu di kandung empedu (penyakit batu kandung empedu)  atau di saluran empedu (penyakit batu saluran empedu), dapat disertai komplikasinya berupa radang kandung empedu, radang di saluran empedu dan radang pankreas.

Adanya batu empedu dapat menimbulkan berbagaikeluhan seperti nyeri perut kanan atas, nyeri ulu hati dan juga bila menyumbat saluran empedu bisa menimbulkan gejala kuning. Berbagai keluhan ini sering kambuhan dan tidak dicurigai sebagai gejala PENYAKIT BATU EMPEDU.  Penyakit batu empedu bisa menimbulkan komplikasi kesehatan yang serius.

Tulisan  ini membahas perihal PENYAKIT BATU EMPEDU: apa, mengapa dan bagaimana,  semoga bermanfaat.

 


Apakah batu empedu?

Penyakit batu empedu adalah penyakit yang terjadi akibat adanya batu empedu yang menimbulkan keluhan. Batu empedu dapat berada di kandung empedu atau di saluran empedu. Kehadiran batu empedu di kandung empedu umumnya tidak menjadi suatu penyakit. Hanya 20 persen dari mereka yang mempunyai batu di kandung empedu, menimbulkan keluhan/penyakit  batu kandung empedu.

Batu empedu asul-usulnya adalah dari cairan empedu yang membatu. Sehingga timbulnya batu empedu erat kaitannya dengan produksi cairan empedu oleh hati dan pengeluarannya ke kandung empedu dan saluran empedu.

 

batu-empedu

 

Meliputi apa sajakah PENYAKIT BATU EMPEDU?

Penyakit batu empedu dapat meliputi:

  • Penyakit batu kandung empedu, serta komplikasinya berupa radang kandung empedu
  • Penyakit batu saluran empedu, serta komplikasinya seperti radang saluran empedu serta radang hati dan pankreas

Berdasarkan waktunya dapat meliputi:

  • Akut, bila gejala penyakit berlangsung singkat dalam beberapa hari hingga beberapa minggu
  • Kronik, bila gejala penyakit berlangsung dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun

Bagaimanakah produksi cairan empedu?

Cairan empedu yang diproduksi di kedua lobus hati kanan dan kiri  akan bermuara ke saluran empedu hati kiri dan kanan, kemudian bergabung menjadi satu di saluran ‘ductus hepatis communis’. Dari saluran ini, cairan empedu dapat dialirkan ke kandung empedu (’vesica vellea’) atau dikeluarkan ke usus dua belas jari (’duodenum’) melalui saluran ‘ductus choledocus’.

Cairan empedu erat kaitannya dengan metabolisme bilirubin, kolesterol dan pencernaan lemak. Cairan empedu terdiri dari air, kolesterol, lemak, garam empedu, protein dan bilirubin.

Batu yang berada di kandung empedu disebut sebagai batu kandung empedu, sedangkan batu yang berada di saluran empedu disebut sebagai batu saluran empedu.

Apakah fungsi dari kandung empedu?

Cairan empedu dapat disimpan dan dipekatkan di dalam kandung empedu. Kandung empedu merupakan suatu kantong berbentuk seperti buah per yang panjangnya sekitar 8 cm, terletak di bawah hati, di daerah perut atas, di bawah pertengahan tulang rusuk kanan. Kandung empedu berfungsi sebagai ‘reservoir’ (cadangan) empedu.

Kandung empedu dapat berkontraksi, sehingga cairan empedu dapat dikeluarkan. Mekanisme ini terjadi  pada saat makan. Adanya lemak dari makanan akan merangsang pengeluaran hormon kolesistokinin dari dinding duodenum menyebabkan kandung empedu berkontraksi mengeluarkan cairan empedu.

Cairan empedu kemudian dialirkan ke usus dua belas jari melalui saluran empedu ‘ductus choledocus’ yang panjangnya sekitar 8 cm.

Saluran empedu akan bermuara ke usus dua belas jari (duodenum), di tempat tersebut bermuara juga saluran dari pankreas yang mengeluarkan berbagai enzim percernaan dari pankreas.

Seberapa besarkah ukuran batu empedu?

Ukuran batu empedu bisa kecil-kecil seperti pasir, atau bisa juga besar hingga seperti bola tenis.

Pada seseorang dapat terjadi beberapa/banyak batu ukuran kecil, atau satu batu ukuran besar, atau gabungan batu ukuran kecil dengan batu ukuran besar.

Batu yang berukuran kecil akan lebih mudah melarut kemudian terbuang bersama cairan empedu. Batu berukuran kecil juga dapat terbuang ke duodenum (usus dua belas jari) tanpa menimbulkan terjadinya sumbatan di saluran empedu.

Batu ukuran besar dapat menimbulkan sumbatan, baik di kandung empedu maupun di saluran empedu. Bila ukuran batu lebih besar daripada ukuran saluran, batu tersebut bisa menimbulkan sumbatan total. Bila ukuran batu lebih kecil daripada ukuran saluran, batu tersebut dapat menyumbat sebagian dari saluran empedu.

 

Terminologi:

  • Cairan  empedu, dalam bahasa Inggris adalah ‘bile’.
  • Batu empedu, dalam bahasa Inggris adalah ‘gallstones’.
  • Batu di kandung empedu disebut ‘cholelithiasis’, dalam bahasa Inggris disebut ‘gall stones’ (bukan ‘gallstones’).
  • Radang kandung empedu = ’cholecystitis’
  • Batu di saluran empedu disebut sebagai ‘choledocholithiasis’.
  • Radang di saluran empedu = ‘cholangitis’
  • Operasi pengangkatan kandung empedu = ‘cholecystectomy’
  • Kuning = ‘jaundice’ = ‘ikterus’, bisa timbul karena adanya sumbatan saluran empedu
  • ’Penyakit bilier’ adalah penyakit yang berkaitan dengan cairan empedu, seperti pada kandung empedu, saluran empedu dan pankreas. Bila disertai dengan penyakit hati, disebut sebagai penyakit ‘hepatobilier’. ’Sistem bilier’ berkaitan dengan fungsi pembuangan cairan empedu dan mengeluarkan enzim-enzim untuk percernaan ke duodenum.
  • Radang hati = ‘hepatitis’
  • Radang pankreas = ‘pankreatitis’

Penyakit batu empedu disebabkan karena adanya batu di kandung empedu atau di saluran empedu yang menimbulkan gejala atau keluhan.

Gejala / keluhan dapat timbul, karena batu menimbulkan sumbatan di saluran kandung empedu, sehingga cairan empedu tidak dapat dikeluarkan dari kandung empedu, atau sumbatan di saluran empedu menimbulkan gejala kuning.

Gejala lain timbul akibat komplikasinya seperti demam dan kuning.

Mengapa bisa terbentuk batu?

Batu empedu terbentuk karena cairan empedu memadat. Batu empedu dapat terbentuk di kandung empedu dan juga di sepanjang saluran empedu baik di dalam hati maupun di luar hati. Pada umumnya batu empedu terbentuk  di dalam kandung empedu. Hal ini dapat terjadi karena berapa kemungkinan ini:

  • Lebih banyak kolesterol dibandingkan pelarutnya (cairan empedu), sehingga kolesterol yang merupakan lemak akan cenderung memadat. Kolesterol ber ‘nukleasi’ membentuk batu.Batu empedu yang terbentuk dari materi kolesterol, disebut juga sebagai ‘batu kolesterol’.
  • Lebih banyak bilirubin dibandingkan pelarutnya (cairan empedu). Batu empedu yang terbentuk dari materi bilirubin, disebut juga sebagai ‘batu pigmen’.
  • Kandung empedu tidak berfungsi dengan baik untuk mengosongkan isinya, mungkin disebabkan karena otot-ototnya terlalu lemah, atau ada hambatan dan sumbatan mekanis seperti yang terjadi pada orang-orang yang gemuk dan ibu hamil. Hal ini menyebabkan cairan empedu lebih lama terperangkap di dalam kandung empedu. Batu yang berukuran kecil seharusnya dapat dikeluarkan melalui saluran empedu. Namun, bila kantung empedu tidak dapat berkontraksi, batu ukuran kecil dapat berubah menjadi lebih besar sehingga akhirnya menjadi  sulit untuk dikeluarkan.

Bagaimanakah siklus enterohepatik kolesterol? []

 


Apa yang  menjadi faktor risiko terbentuknya batu empedu?

Berdasarkan materi yang membentuknya, batu empedu terdiri dari:

  • batu kolesterol,
  • batu pigmen dan
  • batu lainnya.

Terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menimbulkan terbentuknya batu kolesterol, batu pigmen dan batu lainnya.

 

Batu kolesterol dan faktor risikonya

Materi yang membentuk batu kolesterol sebagian besar adalah kolesterol, selain itu batu ini juga dapat mengandung garam kalsium, pigmen empedu, protein dan asam lemak. Batu kolesterol berwarna kuning kehijauan.

Batu kolesterol banyak terjadi di negara-negara barat yang mayoritas penduduknya sering makan makanan yang mengandung lemak hewani. Trent kejadian batu kolesterol di Indonesia nampaknya juga meningkat, mungkin karena penduduk Indonesia (khususnya di perkotaan) suka makan makanan yang mengandung kolesterol dan tidak suka makan sayur.

Walaupun batu kolesterol terbentuk karena hati mengeluarkan lebih banyak kolesterol ke saluran empedu, namun dari penelitian diketahui bahwa hal ini tidak ada kaitannya dengan KADAR KOLESTEROL TINGGI di dalam darah. Batu kolesterol dapat saja terbentuk pada orang yang kadar kolesterolnya tidak tinggi.

Berbagai hal berikut ini merupakan faktor risiko bagi terbentuknya batu kolesterol, yaitu:

  • Jenis kelamin: batu empedu lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.
  • Usia: batu empedu lebih sering terjadi pada mereka yang berumur lebih tua.
  • Obesitas: batu empedu lebih sering terjadi pada mereka yang kelebihan berat badan (overweight) serta berat badan berlebih (OBESITAS).  Pada mereka yang mengalami OBESITAS, terjadi pengeluaran kolesterol yang berlebihan ke saluran empedu.
  • Pola makan tinggi lemak dan rendah serat. Makan makanan yang mengandung banyak kolesterol dan lemak, terutama yang berasal dari lemak hewani, menyebabkan hati mengeluarkan lebih banyak kolesterol ke saluran empedu.
  • Pola makan rendah serat, juga menyebabkan lebih banyak kolesterol dan lemak yang diserap ke dalam tubuh, sehingga produksi kolesterol meningkat. Serat bermanfaat untuk membuang kolesterol dan lemak bersama tinja.
  • Sedentary lifesyle: yaitu gaya hidup kurang gerak, menyebabkan lebih banyak tertimbun di dalam tubuh.
  • Kadar trigliserida tinggi dan DIABETES MELITUS. Batu empedu sering terjadi pada mereka yang mempunyai kadar trigliserida tinggi. Kadar trigliserida tinggi juga sering terjadi pada orang yang mengidap DIABETES MELITUS (KENCING-MANIS).
  • Penyakit gangguan penyerapan usus, seperti ‘Crohn’s disease’. Cairan empedu (dalam keadaan normal) seharusnya akan terserap kembali ke dalam tubuh di usus besar melalui mekanisme siklus enterohepatik, kemudian akan dikeluarkan oleh hati melalui saluran empedu ke usus. Bila terdapat gangguan penyerapan di usus besar, seperti pada ‘Chron’s disease’, cairan empedu tidak dapat diserap kembali ke dalam tubuh, sehingga produksi cairan empedu berkurang.  Hal ini menyebabkan cairan empedu menjadi lebih pecat dan tidak dapat melarutkan kolesterol, sehingga cenderung membentuk batu kolesterol.
  • Ras tertentu dan riwayat keluarga. Kejadian batu empedu pada ras tertentu lebih tinggi dibandingkan dengan ras lainnya, seperti pada ras American Indian dan Mexican Americans. Risiko untuk mempunyai batu empedu juga meningkat bila ada riwayat batu empedu pada anggota keluarga (ayah/ibu).
  • Obat penurun kadar kolesterol golongan fibrat. Obat penurun kadar kolesterol akan membuang lebih banyak kolesterol dari hati sehingga bisa menimbulkan terjadinya batu kolesterol.  Misalnya clofibrate.
  • Kadar hormon estrogen tinggi. Kadar hormon estrogen tinggi menyebabkan pengeluaran kolesterol oleh hati meningkat, dapat terjadi pada mereka yang mengkonsumsi tablet kontrasepsi hormonal (yang mengandung estrogen tinggi) serta pada mereka yang mendapatkan terapi sulih hormon (yang mengandung hormon estrogen).
  • Hamil. Batu empedu lebih sering terjadi pada wanita hamil. Kehamilan menimbulkan hambatan mekanis bagi kandung empedu untuk mengosongkan isinya. Selain itu, saat hamil terjadi kenaikan kadar hormon estrogen.
  • Menurunkan berat badan secara ekstrim, bisa menimbulkan terjadinya batu kolesterol, karena hati membuang lebih banyak kolesterol.
  • Puasa berlebihan. Tidak adanya makanan (lemak) menyebabkan kandung empedu tidak terangsang untuk mengeluarkan isinya, sehingga cairan empedu lebih lama berada di dalam kandung empedu.

 

Batu pigmen dan faktor risikonya

Sesuai dengan namanya, batu pigmen merupakan batu empedu yang berwarna, yaitu batu pigmen coklat dan batu pigmen hitam.

Batu pigmen hitam terbentuk dari bilirubin. Batu ini dapat terbentuk bila kadar bilirubin di dalam darah tinggi. Bilirubin yang dikeluarkan oleh hati kemudian berikatan dengan kalsium dan materi lain membentuk batu ‘calcium bilirubinate’.

Hal ini dapat terjadi pada penyakit yang menimbulkan kerusakan sel darah merah, seperti pada anemia bulan sabit (sickle cell anemia) dan pada penyakit thalassemia.

Batu pigmen hitam juga sering terjadi pada penderita sirosis hati, hepatitis B kronis dan hepatitis C.

Batu pigmen coklat lebih lembek dibandingkan dengan batu kolesterol atau batu pigmen hitam. Batu pigmen coklat  terbentuk karena adanya infeksi bakteri di kandung empedu maupun di infeksi saluran empedu. Bakteri mengeluarkan enzim-enzim yang menyebabkan bilirubin di kandung empedu lebih mudah berikatan dengan kalsium dan materi lain membentuk batu. Infeksi bakteri lebih sering terjadi bila aliran cairan empedu melambat karena sumbatan saluran, misalnya karena adanya batu atau kompresi tumor pada saluran. Batu jenis ini sering terjadi di negara-negara berkembang yang kejadian infeksinya masih tinggi.

 

Batu jenis lain dan faktor risikonya

Jenis batu lainnya yang jarang terjadi adalah batu yang terbentuk karena hasil ‘eliminasi’ antibiotika ‘Ceftriaxone’ berikatan dengan kalsium.

Jadi batu empedu dapat terbentuk bila lebih banyak kolesterol atau bilirubin dibandingkan pelarutnya (cairan empedu), serta bila secara mekanis terdapat hambatan aliran cairan empedu, yang membuat cairan empedu lebih mudah membatu.

 


Bagaimanakah keluhan batu kandung empedu?

Berdasarkan ada tidaknya keluhan, batu kandung empedu terbagi menjadi:

  • ‘Silent stone’ atau ‘asymptomatic gall stones’, yaitu batu empedu yang tidak menimbulkan keluhan, dan
  • ‘Symptomatic gall stones’, yaitu batu empedu yang menimbulkan keluhan, seperti nyeri perut kanan atas, nyeri ulu hati dan lainnya.

 

Diduga 10 hingga 20 persen orang dewasa mempunyai batu empedu. Jadi jumlah orang dewasa yang mempunyai batu empedu cukup banyak, namun kebanyakan dari mereka (sekitar 80 persen) tidak mempunyai keluhan. Mereka yang tidak mempunyai keluhan suatu saat bisa saja jadi mempunyai keluhan.

Dari semua yang mempunyai batu kandung empedu, 20 persennya adalah orang yang mempunyai keluhan batu kandung empedu. Keluhan akan timbul bila batu empedu menimbulkan sumbatan dan atau radang di kandung empedu dan atau di saluran empedu,  yaitu:

  • nyeri atau kolik perut di kanan atas, atau
  • nyeri ulu hati (’nyeri epigastrium’)

yang dapat disertai dengan keluhan mual / muntah (gejala sakit maag, dispepsia), demam dan kuning.

 

Berbagai keluhan ini erat kaitannya dengan dimana posisi batu, serta bagaimana dampaknya terhadap timbulnya peradangan/infeksi dan juga dampaknya terhadap terganggunya fungsi hati dan pankreas. Gejala kuning merupakan petanda adanya sumbatan di saluran empedu. Gejala demam merupakan petanda adanya aktifitas radang, atau infeksi.

Dari gambar diatas, tampak bahwa kandung empedu berada di perut kanan atas, terletak tersembunyi dibelakang hati.

Penderita batu kandung empedu sering menyebutnya sebagai keluhan nyeri perut kanan atas atau dapat pula nyeri di sekitar ulu hati. Nyeri dapat pula menjalar ke punggung atau ke bahu sebelah kanan.

Nyeri perut kanan atas dan nyeri ulu hati dapat pula disebabkan karena penyakit atau kondisi lainnya.

 

‘Silent stone’ / ‘asymptomatic gall stones’

Adanya batu di kandung empedu yang tidak disertai dengan keluhan, disebut sebagai ‘silent stone’ atau ‘asymptomatic gall stones’.

Batu ini bisa saja secara tidak sengaja terdeteksi oleh dokter saat melakukan pemeriksaan foto Rontgen dada atau saat melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Apakah ‘asymptomatic gall stones’ berbahaya?

‘Asymptomatic gall stones’ tidak bergejala, batu ini tidak berbahaya. Lamanya tidak bergejala bisa bertahun-tahun bahkan sepanjang hidup seseorang. Namun diantaranya, suatu saat  batu empedu akan menimbulkan gejala.

Apakah pada orang yang merasa sehat perlu dilakukan skrining untuk mengetahui kemungkinan adanya ‘asymptomatic gall stones’?

Pada orang yang merasa sehat tidak perlu dilakukan skrining batu empedu. Namun, bila seseorang ingin sekedar tahu apakah dirinya mempunyai batu di kandung empedu atau tidak yaitu dengan melakukan pemeriksaan USG maka hal tersebut  diperbolehkan, karena pemeriksaan USG tidak berbahaya.

Apakah ‘asymptomatic gall stones’ harus diterapi?

‘Asymptomatic gall stones’ tidak perlu diterapi, pada sebagian orang yang mempunyai faktor risiko suatu saat bisa menimbulkan gejala. Terapi baru dilakukan bila batu empedu telah menimbulkan keluhan.

 

‘Symptomatic gall stones’

Bila batu empedu menimbulkan keluhan/gejala disebut sebagai ‘symptomatic gall stones’.

Orang yang mengeluh keluhan batu empedu dapat disebut sebagai orang yang mempunyai PENYAKIT BATU EMPEDU.

Penyakit batu empedu baru terjadi bila:

  • adanya batu empedu menyumbat kandung empedu atau menyumbat saluran empedu,
  • adanya batu empedu menyebabkan aliran empedu berukurang sehingga menimbulkan radang serta infeksi di kandung empedu atau di saluran empedu,
  • adanya batu empedu menimbulkan komplikasi, seperti pada pankreas dan hati,

Perbandingan keluhan kolik, demam dan kuning beberapa PENYAKIT BATU EMPEDU dan saluran bilier

 

Kolik

Demam

Kuning

Batu kandung empedu

Ya

Tidak

Tidak

Radang kandung empedu

Ya

Ya

Tidak

Batu saluran empedu

Ya

Tidak

Ya

Radang saluran empedu *)

Ya

Ya

Ya

Gallstones pankreatitis

Ya

Ya

Ya/Tidak

*) Gejala ‘cholangitis’ yang meliputi: nyeri perut kanan atas, kuning dan demam, dalam ilmu kedokteran disebut sebagai Charcot’s triad.

Adanya ‘Charcot’s triad’ (nyeri/kolik perut kanan bawah yang disertai dengan gejala demam dan kuning) tersebut merupakan tanda bahaya, bila tidak diatasi maka penderita ini bisa jatuh ke kondisi komplikasi sepsis berat, bakteri menyebar ke seluruh peredaran darah, yang ditandai dengan turunnya tekanan darah serta penurunan kesadaran hingga koma.

 


Bagaimanakah pemeriksaan medis untuk mendiagnosis PENYAKIT BATU EMPEDU?

Sebenarnya dari wawancara keluhan serta pemeriksaan fisik, dokter sudah dapat membuat suatu hipotesis tentang kemungkinan adanya PENYAKIT BATU EMPEDU. Lalu, mengapakah dokter melakukan pemeriksaan lanjutan?

Berbagai pemeriksaan lanjut erat kaitanya dengan diagnosis pasti dan rencana tindakan. Berbagai pemeriksaan penunjang dapat mengungkap berbagai hal berikut ini:

  • Apakah keluhan pasien benar-benar (pasti) karena adanya batu empedu? sebab, gejala kolik bilier bisa saja terjadi bukan karena adanya batu empedu.
  • Dimanakah lokasi batu? Batu di kandung empedu dapat terlihat dengan pemeriksaan USG, namun batu di saluran dan muara saluran empedu lebih sulit dilihat dengan pemeriksaan USG biasa.
  • Apakah ada komplikasi akibat batu empedu?

Dengan telah terungkapnya berbagai hal tersebut, kemudian dokter dapat memutuskan metode tindakan apa yang terbaik untuk kasus batu empedu yang sedang ia temukan.

 

Berbagai jenis pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis PENYAKIT BATU EMPEDU

Untuk keperluan diagnostik penyakit pada sistem bilier, terdapat berbagai jenis pemeriksaan penunjang, yaitu pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium, misalnya:

  • Pemeriksaan bilirubin:  total bilirubin, bilirubin direk, bilirubin indirek.
  • Pemeriksaan eksresi enzim hati: kadar enzim  AST (amino transferase) dan ALT (alanine aminotrasferase).

Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan, dapat melihat citra dari organ bilier, berdasarkan tekniknya dapat meliputi:

  • Pemeriksaan yang menggunakan sinar X atau sering disebut juga dengan sinar Rontgen.
  • Pemeriksaan menggunakan gelombang suara ultra, yaitu ultrasonografi (USG).
  • Pemeriksaan menggunakan isotop radio aktif, sering disebut juga sebagai pemeriksaan nuklir.
  • Pemeriksaan menggunakan gelombang magnetik, seperti pada MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Pemeriksaan dengan sinar X, berdasarkan diberi zat kontras atau tidak:

  • Pemeriksaan dengan zat kontras, sehingga bagian  organ yang difoto akan tampak lebih kontras.
  • Pemeriksaan tanpa zat kontras.

Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan ultrasonografi

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sudah cukup populer karena sering digunakan untuk pemeriksaan ibu hamil, yaitu yang digunakan untuk melihat citra janin yang dikandung ibu.

Prinsip alat ini adalah: ‘transducer’ dari alat usg akan mengeluarkan gelombang suara ultra, pantulan suara ultra (disebut sebagai ‘echo’) dari berbagai organ serta batu empedu akan tertangkap dan dapat dilihat di layar monitor.

Alat ini tidak berbahaya, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memancarkan radiasi sinar X dan tidak mahal.

 

‘Transabdominal Ultrasonography’

Secara teknis, ‘transducer’ umumnya diletakkan diatas kulit perut, disebut juga sebagai ‘transabdominal ultrasonography’, sering dilakukan di rumah sakit/klinik oleh seorang dokter ahli radiologi.

Pemeriksaan USG dapat akurat mendeteksi adanya batu di kandung empedu, akurasinya tinggi terutama bila batu empedu berukuran lebih dari 1,5 mm juga bila pemeriksaan dilakukan pada saat seseorang mengeluh kolik bilier.

Pemeriksaan USG dapat melihat pembesaran kandung empedu yang merupakan tanda dari radang kandung empedu,

Pemeriksaan USG dapat menduga adanya radang kandung empedu, yaitu dengan melihat pembesaran kandung empedu.

Serta mungkin dapat melihat pelebaran saluran yang merupakan tanda adanya sumbatan di saluran empedu.

Pemeriksaan ini juga bisa mencurigai tentang adanya pankreatitis dan apendisitis yang merupakan penyebab nyeri perut kanan atas lainnya.

 

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+usg

 

‘Endoscopic ultrasonography’

Bila kelainan organ terlalu dalam untuk bisa terdekteksi dari luar, maka ‘transducer’ dapat dimasukkan ke dalam tubuh lewat mulut hingga mencapai duodenum dengan menggunakan teknik pemeriksaan endoskopi.

Keunggulan pemeriksaan USG dengan endoskopi adalah dapat melihat lebih jelas (lebih dekat) tentang keberadaan kandung empedu, saluran empedu dan pankreas.

Dibandingkan dengan teknik USG biasa ('transabdominal ultrasonography'), pemeriksaan ini:

  • lebih sensitif untuk melihat batu yang ukurannya lebih kecil.
  • lebih sensitif untuk melihat batu di saluran empedu.

Namun pemeriksaan ini lebih mahal dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih untuk ahli melakukan tindakan endoskopi.

Selain itu saat tindakan orang yang diperiksa perlu dibius dengan obat penenang.

 

Pemeriksaan foto Rontgen

Bila pada pemeriksaan USG yang dipancarkan adalah gelombang suara yang kemudian pantulannya ditangkap oleh detektor, maka pada pemeriksaan foto Rontgen yang dipancarkan adalah sinar X yang menembus organ kemudian ditangkap dan dapat dilihat dari film. Pemeriksaan pencitraan dengan sinar X meliputi banyak jenis dan teknik, diantaranya yang populer adalah foto Rontgen dada (’thoraks’) dan foro Rontgen perut (’abdomen’).

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+thorax+x-ray

 

Foto rontgen dada dan perut

Pada kasus PENYAKIT BATU EMPEDU, pemeriksaan foto Rontgen bukan merupakan pemeriksaan pilihan dan tidak dimaksudkan untuk mendeteksi adanya batu empedu. Pemeriksaan ini bisa saja menangkap citra dari batu ‘radio opack’ yang berukuran besar, yaitu batu yang memiliki kepadatan kalsium yang tinggi sehingga di hasil foto Rontgen  akan tampak lebih putih. Sedangkan untuk batu pigmen yang lebih lunak (radiolucent), tidak akan terdeteksi.

Adanya batu empedu yang tampak pada foto rontgen biasanya merupakan suatu ketidaksengajaan pada saat dokter memeriksa penyakit lain, misalnya pada saat dokter membaca foto dada pada kasus radang paru (’pneumonia’) lobus kanan bawah yang juga bisa menimbulkan keluhan nyeri perut kanan atas.

Di rumah sakit yang belum memiliki alat diagnostik pencitraan yang lebih canggih, teknik pencitraan dengan sinar X mungkin masih digunakan. Untuk mendapatkan gambaran organ bilier yang lebih jelas, maka sebelum di foto, organ tersebut diberi dulu cairan kontras. Zat kontras dapat masuk ke organ bilier dengan beberapa teknik:

‘Oral cholecystogram’

Cairan kontras yang mengandung iodine diminum satu-dua hari sebelum pemotretan, sehingga terserap oleh usus kemudian dibuang oleh hati dan masuk ke kandung empedu, teknik ini disebut dengan ‘oral cholecystogram (OCG)’.

‘Intravenous cholangiogram’

Teknik lainnya adalah dengan memasukkan cairan kontras ke pembuluh darah vena, disebut juga dengan ‘Intravenous cholangiogram’ (IVC). Pada teknik ini kontras bisa masuk ke sistem bilier lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan teknik OCG.

Di rumah sakit yang sudah modern, pemeriksaan OCG dan IVC telah jarang dilakukan. Pemeriksaan  ‘MRI cholangiography’ dan ‘endoscopic ultrasound’ lebih canggih dan akurat.

 

CT Scan / CT-Cholangiography

Pemeriksaan CT Scan merupakan pemeriksaan dengan sinar-X yang lebih canggih yaitu dapat memperlihatkan citra irisan / cross-section / 'tomography' dari berbagai organ dalam, termasuk organ bilier.

Pemeriksaan ini lebih sensitif untuk melihat keberadaan organ bilier dibandingkan foto Rontgen biasa, hanya dosis (paparan) sinar-X nya jauh lebih, selain mahal, juga hanya dapat dilakukan di rumah sakit tertentu.

Pemeriksaan CT Scan selain dapat melihat adanya batu, sumbatan, pelebaran saluran, juga dapat melihat berbagai komplikasi penyakit bilier seperti peradangan dan pecah (ruptur) di kandung empedu atau di saluran empedu.

Karena CT scan menggunakan sinar-X, maka pemeriksaan ini tidak akan sensitif untuk mendeteksi adanya batu yang 'radiolucent', seperti batu pigmen coklat.

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+ct-scan

 

Cholescintigraphy (HIDA scan)

‘Cholescintigraphy’ merupakan teknik pencitraan canggih dengan menggunakan marker berupa ‘isotop radionuclir’.

‘Radio isotop dimasukkan melalui pembuluh darah vena di lengan pasien, lalu akan masuk ke dalam organ bilier, kemudian memancarkan radioaktif yang akan ditangkap oleh kamera khusus dan dianalisa oleh komputer.

Pemeriksaan ‘cholescintigraphy’ tidak dilakukan untuk tujuan mendeteksi adanya batu empedu, namun ditujukan untuk menganalisa kontraksi kandung empedu serta menganalisa  aliran cairan empedu di sistem bilier.

Bila terdapat sumbatan di kandung empedu atau di saluran empedu, baik karena batu, proses radang kronik maupun bukan karena batu,  maka aliran dari ‘marker’ tidak dapat terlihat.

Pemeriksaan ‘cholescintigraphy’ dapat dilakukan bila dokter curiga kolesistitis, tapi dari hasil pemeriksaan USG tampak normal (tidak terdeteksi adanya batu), contohnya pada orang yang obes, dimana USG sulit mendeteksi adanya batu.

Pemeriksaan ini juga bisa melihat tanda-tanda sumbatan yaitu pelebaran sumbatan empedu, jadi bisa menduga ada atau tidaknya radang di saluran empedu.

Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan di rumah sakit yang mempunyai fasilitas kedokteran nuklir.

 

Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP)

Pemeriksaan MRCP merupakan teknik pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging), yaitu pemeriksaan pencitraan yang menggunakan resonansi gelombang elektromagnetik. Keunggulan pemeriksaan ini adalah dapat memperlihatkan citra organ dalam resolusi tinggi, tidak berbahaya, dan tidak menimbulkan perlukaan (non-invasif).

Keunggulan pemeriksaan MRCP dibandingkan dengan CT-scan dan ERCP adalah tidak memaparkan radiasi sinar X kepada pasien.

Pemeriksaan MRCP bisa memperlihatkan citra berbagai organ bilier dengan sangat baik. Pemeriksaan MRCP dapat mendeteksi adanya batu di kandung empedu, batu di saluran empedu dan perlengketan saluran.

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+mri

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+mrcp

 

Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)

ERCP merupakan pemeriksaan canggih yang memadukan  antara teknik pemeriksaan endoskopi dengan teknik pencitraan sinar-X yang menggunakan kontras.

Dengan menggunakan alat endoskopi, dokter dapat meneropong saluran cerna hingga mencapai muara saluran empedu di duodenum, kemudian dokter akan menginjeksikan kontras ke saluran empedu, dengan demikian hasil foto dari ERCP akan memperlihatkan citra saluran empedu dengan jelas.

Pemeriksaan ERCP digunakan untuk mendeteksi adanya sumbatan di saluran kandung empedu, di saluran empedu dan di saluran pankreas.

Keunggulan ERCP adalah selain dapat digunakan untuk diagnostik yaitu untuk mendeteksi adanya batu di saluran empedu, juga dapat digunakan untuk tujuan terapeutik yaitu berupa tindakan penghancurkan / pengambilan  batu.

Pemeriksaan ERCP hanya dapat dilakukan oleh dokter ahli endoskopi, biasanya seorang dokter spesialis penyakit dalam atau seorang gastroenterolog (ahli penyakit saluran cerna).

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+ercp

 

Pemeriksaan Laboratorium

Bila pada pemeriksaan pencitraan tujuannya adalah melihat citra dari organ yang terganggu oleh batu empedu atau oleh sebab-sebab lainnya, maka pemeriksaan laboratorium bukan dimaksudkan untuk mendeteksi adanya batu, namun untuk mendeteksi kondisi lainnya seperti kemungkinan adanya radang, gangguan fungsi hati (karena adanya sumbatan saluran empedu), gangguan fungsi pankreas (karena adanya sumbatan di muara saluran) serta kondisi sistemik lainnya seperti sepsis.

Pemeriksaan laboratorium dapat meliputi:

  • Pemeriksaan eksresi hati, yaitu bilirubin.
  • Pemeriksaan serum ezim hati, yaitu
  • AST (amino transferase), sering disebut juga sebagai SGOT  dan
  • ALT (alanine aminotrasferase), sering disebut juga sebagai SGPT.
    • Pemeriksaan serum enzim pankreas, yaitu amilase, dan lipase.

Selain pemeriksaan tersebut, mungkin juga dokter melakukan pemeriksaan laboratorium yang lain untuk mendukung atau menyangkal suatu diagnosis banding. Misalnya: tes urin, mungkin dapat menyingkirkan bahwa nyeri perut kanan atas bukan disebabkan karena radang ginjal kanan.

Bilirubin: Kadar bilirubin akan meningkat ketika terjadi gangguan pengeluaran (’eksresi) bilirubin karena ada sumbatan di saluran empedu. Pemeriksaan ini tidak spesifik, kadar bilirubin juga dapat meningkat karena sebab-sebab lainnya.

Enzim hati: AST (amino transferase) dan ALT (alanine aminotrasferase). Kedua enzim ini kadarnya akan meningkat ketika fungi hati terganggu, yaitu ketika terjadi sumbatan di saluran empedu.

Enzim pankreas: amilase dan lipase. Kedua enzim ini akan meningkat bila pankreas mengalami peradangan. Radang pankreas bisa disebabkan karena adanya sumbatan di saluran pankreas, atau karena sebab-sebab lainnya.

 


Bagaimanakah terapi penanganan penyakit batu empedu?

Pertimbangan dokter dalam penanganan PENYAKIT BATU EMPEDU dapat meliputi berbagai hal berikut ini:

  • Apakah batu empedu menimbulkan keluhan (‘symptomatic gallstones?’) , bila tidak maka tidak ada tindakan.
  • Dimanakah lokasi batu?
    • di kandung empedu
    • di saluran empedu
    • di muara saluran empedu
    • atau dibeberapa tempat diatas
  • Seberapa besarkah ukuran batu? Jenis batu apakah (kolesterol atau pigmen?)
  • Apakah terdapat komplikasi lokal akibat batu?
    • peradangan akut
    • peradangan kronik, dapat berupa perlengketan
    • fistula
    • abses
  • Apakah terdapat komplikasi sistemik?
    • sepsis

Dari berbagai pertimbangan diatas, penanganan penyakit empedu dapat meliputi:

  • Tindakan bukan pembedahan
  • Tindakan pembedahan
  • Terapi pendukung lainnya, seperti antibiotika, cairan, nutrisi, analgesik, dan lainnya.

 

Tindakan non-bedah

Terapi non-bedah dengan obat peluruh batu empedu akan dipertimbangkan dokter bila batu berukuran kecil, mempunyai kemungkinan untuk larut (mengecil), tidak sering menimbulkan kekambuhan atau bila tindakan pembedahan tidak memungkinkan.

Ursodeoxycholic dan chenodeoxycholic acid

Obat ini dapat dicoba untuk meluruhkan batu empedu jenis batu kolesterol (yaitu batu yang radiolucent), bila ukuran batu kurang dari 5 mm, bila ukuran batu lebih besar kemungkinan untuk meluruh semakin kecil.  Untuk meluruhkan batu, obat ini harus dikonsumsi cukup lama, yaitu sekitar 6 hingga 18 bulan (2 tahun). Umumnya dapat ditoleransi dengan baik, jarang menimbulkan efek samping, dapat terjadi keluhan diare dan muntah.

Bila pasien boleh pulang (rawat jalan), oleh dokter akan diberi pula ‘analgesik’ (obat pereda nyeri), ‘spasmolitik’ (obat pereda spame/kolik), serta bila perlu antibiotika.

 

Tindakan pembedahan

Tindakan pembedahan dapat meliputi:

  • pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi),
  • penghancuran / pengambilan batu di kandung empedu, saluran empedu, muara saluran empedu,
  • membuka saluran yang menutup / menyempit,
  • membersihkan organ bilier dari dari berbagai nanah dan perlengketan.

 

Berdasarkan teknik dan akses pembedahan/tindakan, bisa meliputi:

  • ERCP
  • Laparoskopi
  • Bedah terbuka

 

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=ercp+choledocholithiasis
http://images.search.yahoo.com/search/images?p=ercp+cholecystitis

 

Tujuan tindakan pembedahan dilakukan oleh dokter adalah:

  • mencegah kekambuhan (serangan kolik), karena batu sudah tidak ada dan tidak akan menyumbat saluran,
  • mencegah perjalanan penyakit menjadi suatu penyakit yang menahun, menimbulkan peradangan kronik,
  • mencegah timbulnya berbagai komplikasi yang lebih berbahaya.

 

Bila dokter menganjurkan tindakan pembedahan, baik dengan ERCP, laparoskopi atau bedah terbuka  sebaiknya jangan ditunda-tunda, karena:

  • bila dibiarkan keluhan kolik akan menjadi semakin sering kambuh menahun
  • timbul masalah / komplikasi, sehingga yang tadinya cukup dengan minimal invasif atau laparoskopi,  jadi harus operasi dengan teknik bedah terbuka yang lebih luas. Hal ini tentunya berdampak pada waktu penyembuahan yang menjadi lebih lama, serta biaya pengobatan menjadi lebih mahal. Lainnya, waktu produktif jadi lebih banyak terbuang karena sering sakit.

Adanya komplikasi infeksi / peradangan dapat menunda waktu / rencana tindakan.

Bila tidak ada infeksi, operasi pengangkatan kandung empedu bisa segera dilakukan, namun bila ada infeksi harus ditunda hingga keadaan infeksi membaik.

 


Bagaimanakah komplikasi akibat PENYAKIT BATU EMPEDU?

Perjalanan PENYAKIT BATU EMPEDU dapat diringkas sebagai berikut:

Pada mulanya terdapat ‘asymptomatic gallstones’ yang tidak menimbulkan gejala. Suatu saat batu empedu dapat menyumbat kandung empedu hingga menimbulkan peradangan di kandung empedu. Bila peristiwa ini terjadi berulang maka akan timbul radang kandung empedu kronik. Batu yang keluar ke saluran atau yang terbentuk di saluran dapat menyumbat saluran empedu hingga menimbulkan peradangan di saluran empedu. Keadaan ini juga mengganggu fungsi hati sehingga timbul gejala kuning. Bila sumbatan terdapat di muara saluran, kemungkinan besar pankreas juga akan terganggu, sehingga menimbulkan pankreatitis.

Semua kondisi radang dan infeksi pada kandung empedu, saluran empedu, pankreas dan hati, bisa berlanjut menjadi suatu infeksi luas (sepsis), borok (abses) pada organ, pecah organ (perforasi), hingga infeksi rongga perut (peritonitis)

Penyakit batu empedu

  • Komplikasi tersering: radang kandung empedu (cholecystitis acut).
  • Komplikasi yang berbahaya: gallstones pancreatitis, cholangitis, hepatitis, abses (borok).
  • Komplikasi yang paling gawat: sepsis, perforasi, peritonitis.

Tanda-tanda bahaya:

Harus segera merujuk penderita ke rumah sakit apabila terdapat tanda-tanda / gejala ini:

  • Kolik bilier yang lebih lama dari 5 jam, nyeri perut kanan atas atau nyeri ulu hati seperti mulas atau keram, yang dapat disertai dengan gejala mual/muntah.
  • Demam, bisa disertai dengan menggigil
  • Kuning, yaitu pada sklera mata dan seluruh tubuh
  • Tinja tidak berwarna kuning

Komplikasi PENYAKIT BATU EMPEDU bisa mengancam nyawa seseorang.

Jangan diabaikan: Bila ada keluhan nyeri ulu hati yang menahun, seperti keluhan ‘sakit maag’. Pastikan apakah merupakan gejala dari PENYAKIT BATU EMPEDU atau bukan.

 

Komplikasi PENYAKIT BATU EMPEDU

Penyakit batu empedu dapat menimbulkan komplikasi organ dan komplikasi sistemik.

Gangren

Gangren adalah borok yang disebabkan karena kematian sel/jaringan. Gangren kandung empedu, saluran empedu dan pankreas diawali oleh infeksi pada organ-organ tersebut.

Sepsis

Sepsis adalah menyebarnya agen infeksi (misalnya bakteri) ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Sepsis berat dapat menimbulkan syok, dimana tekanan darah turun.

Fistula

Fistula adalah saluran abnormal yang terbentuk antara dua organ. Batu empedu mengerosi dinding kandung empedu atau salurang empedu, menimbulkan saluran baru ke lambung, usus dan rongga perut.

Peritonitis

Peritonitis adalah radang rongga perut, disebabkan karena rongga perut yang steril terkontaminasi oleh cairan empedu melalui suatu fistula ke rongga perut.

Ileus

Ilues dapat terjadi karena batu menyumbat isi usus. Dapat terjadi bila batu berukuran cukup besar.


Mencegah PENYAKIT BATU EMPEDU

Terdapat berbagai faktor risiko yang bisa membentuk batu kolesterol, batu pigmen dan batu lainnya.

 

Mencegah terbentuknya batu kolesterol

  • Hindari OBESITAS / KEGEMUKAN, dengan pola makan sehat dan beraktivitas fisik.
  • Hindari sedentary lifesyle: yaitu gaya hidup kurang gerak,
  • Hindari pola makan tinggi lemak dan rendah serat
  • Kendalikan kondisi kadar trigliserida tinggi, serta diabetes dengan upaya obat dan non obat.
  • Bila menggunakan obat penurun kadar kolesterol golongan fibrat, minta dokter untuk menggantikan dengan yang lain.
  • Jangan mnurunkan berat badan secara ekstrim,
  • Jangan berpuasa berlebihan.

 

 

Terakhir disunting pada
Apakah tulisan ini mencerahkanmu? Yuk beri bintang untuk tulisan ini:
  • Saat ini belum ada komentar, apa kamu ada komentar?

Stickies

  • Saat ini belum ada komentar, apa kamu ada komentar?

Lovies

  • Saat ini belum ada komentar, apa kamu ada komentar?

Tulis komentarmu

Tulis komentar sebagai tamu

0

Log in or create an account

Sign in with Facebook