Keluarga Lambung

FamiliaMedika.net

Group keluarga empedu dan pankreas Group keluarga empedu dan pankreas

Diagnosis penyakit batu empedu

 diagnosis penyakit batu empedu

 

Bagaimanakah pemeriksaan medis untuk mendiagnosis penyakit batu empedu?

Sebenarnya dari wawancara keluhan serta pemeriksaan fisik, dokter sudah dapat membuat suatu hipotesis tentang kemungkinan adanya penyakit batu empedu. Lalu, mengapakah dokter melakukan pemeriksaan lanjutan?

Berbagai pemeriksaan lanjut erat kaitanya dengan diagnosis pasti dan rencana tindakan. Berbagai pemeriksaan penunjang dapat mengungkap berbagai hal berikut ini:

  • Apakah keluhan pasien benar-benar (pasti) karena adanya batu empedu? sebab, gejala kolik bilier bisa saja terjadi bukan karena adanya batu empedu.
  • Dimanakah lokasi batu? Batu di kandung empedu dapat terlihat dengan pemeriksaan USG, namun batu di saluran dan muara saluran empedu lebih sulit dilihat dengan pemeriksaan USG biasa.
  • Apakah ada komplikasi akibat batu empedu?

Dengan telah terungkapnya berbagai hal tersebut, kemudian dokter dapat memutuskan metode tindakan apa yang terbaik untuk kasus batu empedu yang sedang ia temukan.

 

Berbagai jenis pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis penyakit batu empedu

Untuk keperluan diagnostik penyakit pada sistem bilier, terdapat berbagai jenis pemeriksaan penunjang, yaitu pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium, misalnya:

  • Pemeriksaan bilirubin:  total bilirubin, bilirubin direk, bilirubin indirek.
  • Pemeriksaan eksresi enzim hati: kadar enzim  AST (amino transferase) dan ALT (alanine aminotrasferase).

Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan, dapat melihat citra dari organ bilier, berdasarkan tekniknya dapat meliputi:

  • Pemeriksaan yang menggunakan sinar X atau sering disebut juga dengan sinar Rontgen.
  • Pemeriksaan menggunakan gelombang suara ultra, yaitu ultrasonografi (USG).
  • Pemeriksaan menggunakan isotop radio aktif, sering disebut juga sebagai pemeriksaan nuklir.
  • Pemeriksaan menggunakan gelombang magnetik, seperti pada MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Pemeriksaan dengan sinar X, berdasarkan diberi zat kontras atau tidak:

  • Pemeriksaan dengan zat kontras, sehingga bagian  organ yang difoto akan tampak lebih kontras.
  • Pemeriksaan tanpa zat kontras.

Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan ultrasonografi

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sudah cukup populer karena sering digunakan untuk pemeriksaan ibu hamil, yaitu yang digunakan untuk melihat citra janin yang dikandung ibu.

Prinsip alat ini adalah: ‘transducer’ dari alat usg akan mengeluarkan gelombang suara ultra, pantulan suara ultra (disebut sebagai ‘echo’) dari berbagai organ serta batu empedu akan tertangkap dan dapat dilihat di layar monitor.

Alat ini tidak berbahaya, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memancarkan radiasi sinar X dan tidak mahal.

 

‘Transabdominal Ultrasonography’

Secara teknis, ‘transducer’ umumnya diletakkan diatas kulit perut, disebut juga sebagai ‘transabdominal ultrasonography’, sering dilakukan di rumah sakit/klinik oleh seorang dokter ahli radiologi.

Pemeriksaan USG dapat akurat mendeteksi adanya batu di kandung empedu, akurasinya tinggi terutama bila batu empedu berukuran lebih dari 1,5 mm juga bila pemeriksaan dilakukan pada saat seseorang mengeluh kolik bilier.

Pemeriksaan USG dapat melihat pembesaran kandung empedu yang merupakan tanda dari radang kandung empedu,

Pemeriksaan USG dapat menduga adanya radang kandung empedu, yaitu dengan melihat pembesaran kandung empedu.

Serta mungkin dapat melihat pelebaran saluran yang merupakan tanda adanya sumbatan di saluran empedu.

Pemeriksaan ini juga bisa mencurigai tentang adanya pankreatitis dan apendisitis yang merupakan penyebab nyeri perut kanan atas lainnya.

 

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+usg

 

‘Endoscopic ultrasonography’

Bila kelainan organ terlalu dalam untuk bisa terdekteksi dari luar, maka ‘transducer’ dapat dimasukkan ke dalam tubuh lewat mulut hingga mencapai duodenum dengan menggunakan teknik pemeriksaan endoskopi.

Keunggulan pemeriksaan USG dengan endoskopi adalah dapat melihat lebih jelas (lebih dekat) tentang keberadaan kandung empedu, saluran empedu dan pankreas.

Dibandingkan dengan teknik USG biasa ('transabdominal ultrasonography'), pemeriksaan ini:

  • lebih sensitif untuk melihat batu yang ukurannya lebih kecil.
  • lebih sensitif untuk melihat batu di saluran empedu.

Namun pemeriksaan ini lebih mahal dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih untuk ahli melakukan tindakan endoskopi.

Selain itu saat tindakan orang yang diperiksa perlu dibius dengan obat penenang.

 

Pemeriksaan foto Rontgen

Bila pada pemeriksaan USG yang dipancarkan adalah gelombang suara yang kemudian pantulannya ditangkap oleh detektor, maka pada pemeriksaan foto Rontgen yang dipancarkan adalah sinar X yang menembus organ kemudian ditangkap dan dapat dilihat dari film. Pemeriksaan pencitraan dengan sinar X meliputi banyak jenis dan teknik, diantaranya yang populer adalah foto Rontgen dada (’thoraks’) dan foro Rontgen perut (’abdomen’).

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+thorax+x-ray

 

Foto rontgen dada dan perut

Pada kasus penyakit batu empedu, pemeriksaan foto Rontgen bukan merupakan pemeriksaan pilihan dan tidak dimaksudkan untuk mendeteksi adanya batu empedu. Pemeriksaan ini bisa saja menangkap citra dari batu ‘radio opack’ yang berukuran besar, yaitu batu yang memiliki kepadatan kalsium yang tinggi sehingga di hasil foto Rontgen  akan tampak lebih putih. Sedangkan untuk batu pigmen yang lebih lunak (radiolucent), tidak akan terdeteksi.

Adanya batu empedu yang tampak pada foto rontgen biasanya merupakan suatu ketidaksengajaan pada saat dokter memeriksa penyakit lain, misalnya pada saat dokter membaca foto dada pada kasus radang paru (’pneumonia’) lobus kanan bawah yang juga bisa menimbulkan keluhan nyeri perut kanan atas.

Di rumah sakit yang belum memiliki alat diagnostik pencitraan yang lebih canggih, teknik pencitraan dengan sinar X mungkin masih digunakan. Untuk mendapatkan gambaran organ bilier yang lebih jelas, maka sebelum di foto, organ tersebut diberi dulu cairan kontras. Zat kontras dapat masuk ke organ bilier dengan beberapa teknik:

‘Oral cholecystogram’

Cairan kontras yang mengandung iodine diminum satu-dua hari sebelum pemotretan, sehingga terserap oleh usus kemudian dibuang oleh hati dan masuk ke kandung empedu, teknik ini disebut dengan ‘oral cholecystogram (OCG)’.

‘Intravenous cholangiogram’

Teknik lainnya adalah dengan memasukkan cairan kontras ke pembuluh darah vena, disebut juga dengan ‘Intravenous cholangiogram’ (IVC). Pada teknik ini kontras bisa masuk ke sistem bilier lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan teknik OCG.

Di rumah sakit yang sudah modern, pemeriksaan OCG dan IVC telah jarang dilakukan. Pemeriksaan  ‘MRI cholangiography’ dan ‘endoscopic ultrasound’ lebih canggih dan akurat.

 

CT Scan / CT-Cholangiography

Pemeriksaan CT Scan merupakan pemeriksaan dengan sinar-X yang lebih canggih yaitu dapat memperlihatkan citra irisan / cross-section / 'tomography' dari berbagai organ dalam, termasuk organ bilier.

Pemeriksaan ini lebih sensitif untuk melihat keberadaan organ bilier dibandingkan foto Rontgen biasa, hanya dosis (paparan) sinar-X nya jauh lebih, selain mahal, juga hanya dapat dilakukan di rumah sakit tertentu.

Pemeriksaan CT Scan selain dapat melihat adanya batu, sumbatan, pelebaran saluran, juga dapat melihat berbagai komplikasi penyakit bilier seperti peradangan dan pecah (ruptur) di kandung empedu atau di saluran empedu.

Karena CT scan menggunakan sinar-X, maka pemeriksaan ini tidak akan sensitif untuk mendeteksi adanya batu yang 'radiolucent', seperti batu pigmen coklat.

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+ct-scan

 

Cholescintigraphy (HIDA scan)

‘Cholescintigraphy’ merupakan teknik pencitraan canggih dengan menggunakan marker berupa ‘isotop radionuclir’.

‘Radio isotop dimasukkan melalui pembuluh darah vena di lengan pasien, lalu akan masuk ke dalam organ bilier, kemudian memancarkan radioaktif yang akan ditangkap oleh kamera khusus dan dianalisa oleh komputer.

Pemeriksaan ‘cholescintigraphy’ tidak dilakukan untuk tujuan mendeteksi adanya batu empedu, namun ditujukan untuk menganalisa kontraksi kandung empedu serta menganalisa  aliran cairan empedu di sistem bilier.

Bila terdapat sumbatan di kandung empedu atau di saluran empedu, baik karena batu, proses radang kronik maupun bukan karena batu,  maka aliran dari ‘marker’ tidak dapat terlihat.

Pemeriksaan ‘cholescintigraphy’ dapat dilakukan bila dokter curiga kolesistitis, tapi dari hasil pemeriksaan USG tampak normal (tidak terdeteksi adanya batu), contohnya pada orang yang obes, dimana USG sulit mendeteksi adanya batu.

Pemeriksaan ini juga bisa melihat tanda-tanda sumbatan yaitu pelebaran sumbatan empedu, jadi bisa menduga ada atau tidaknya radang di saluran empedu.

Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan di rumah sakit yang mempunyai fasilitas kedokteran nuklir.

 

Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP)

Pemeriksaan MRCP merupakan teknik pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging), yaitu pemeriksaan pencitraan yang menggunakan resonansi gelombang elektromagnetik. Keunggulan pemeriksaan ini adalah dapat memperlihatkan citra organ dalam resolusi tinggi, tidak berbahaya, dan tidak menimbulkan perlukaan (non-invasif).

Keunggulan pemeriksaan MRCP dibandingkan dengan CT-scan dan ERCP adalah tidak memaparkan radiasi sinar X kepada pasien.

Pemeriksaan MRCP bisa memperlihatkan citra berbagai organ bilier dengan sangat baik. Pemeriksaan MRCP dapat mendeteksi adanya batu di kandung empedu, batu di saluran empedu dan perlengketan saluran.

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+mri

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+mrcp

 

Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)

ERCP merupakan pemeriksaan canggih yang memadukan  antara teknik pemeriksaan endoskopi dengan teknik pencitraan sinar-X yang menggunakan kontras.

Dengan menggunakan alat endoskopi, dokter dapat meneropong saluran cerna hingga mencapai muara saluran empedu di duodenum, kemudian dokter akan menginjeksikan kontras ke saluran empedu, dengan demikian hasil foto dari ERCP akan memperlihatkan citra saluran empedu dengan jelas.

Pemeriksaan ERCP digunakan untuk mendeteksi adanya sumbatan di saluran kandung empedu, di saluran empedu dan di saluran pankreas.

Keunggulan ERCP adalah selain dapat digunakan untuk diagnostik yaitu untuk mendeteksi adanya batu di saluran empedu, juga dapat digunakan untuk tujuan terapeutik yaitu berupa tindakan penghancurkan / pengambilan  batu.

Pemeriksaan ERCP hanya dapat dilakukan oleh dokter ahli endoskopi, biasanya seorang dokter spesialis penyakit dalam atau seorang gastroenterolog (ahli penyakit saluran cerna).

http://images.search.yahoo.com/search/images?p=gallstones+ercp

 

Pemeriksaan Laboratorium

Bila pada pemeriksaan pencitraan tujuannya adalah melihat citra dari organ yang terganggu oleh batu empedu atau oleh sebab-sebab lainnya, maka pemeriksaan laboratorium bukan dimaksudkan untuk mendeteksi adanya batu, namun untuk mendeteksi kondisi lainnya seperti kemungkinan adanya radang, gangguan fungsi hati (karena adanya sumbatan saluran empedu), gangguan fungsi pankreas (karena adanya sumbatan di muara saluran) serta kondisi sistemik lainnya seperti sepsis.

Pemeriksaan laboratorium dapat meliputi:

  • Pemeriksaan eksresi hati, yaitu bilirubin.
  • Pemeriksaan serum ezim hati, yaitu
  • AST (amino transferase), sering disebut juga sebagai SGOT  dan
  • ALT (alanine aminotrasferase), sering disebut juga sebagai SGPT.
    • Pemeriksaan serum enzim pankreas, yaitu amilase, dan lipase.

Selain pemeriksaan tersebut, mungkin juga dokter melakukan pemeriksaan laboratorium yang lain untuk mendukung atau menyangkal suatu diagnosis banding. Misalnya: tes urin, mungkin dapat menyingkirkan bahwa nyeri perut kanan atas bukan disebabkan karena radang ginjal kanan.

Bilirubin: Kadar bilirubin akan meningkat ketika terjadi gangguan pengeluaran (’eksresi) bilirubin karena ada sumbatan di saluran empedu. Pemeriksaan ini tidak spesifik, kadar bilirubin juga dapat meningkat karena sebab-sebab lainnya.

Enzim hati: AST (amino transferase) dan ALT (alanine aminotrasferase). Kedua enzim ini kadarnya akan meningkat ketika fungi hati terganggu, yaitu ketika terjadi sumbatan di saluran empedu.

Enzim pankreas: amilase dan lipase. Kedua enzim ini akan meningkat bila pankreas mengalami peradangan. Radang pankreas bisa disebabkan karena adanya sumbatan di saluran pankreas, atau karena sebab-sebab lainnya.

 

Last modified pada
You don't have permission to view or post comments.

Cari

Polling: Beri kami pendapatanmu

Apakah kamu suka FamiliaMedika.net?

Saya sangat suka FamiliaMedika.net - 100%
Saya suka - 0%
Biasa saja - 0%
Saya tidak suka - 0%

Total votes: 2
The voting for this poll has ended on: 17 Apr 2013 - 13:03
 

Blog Liver&Empedu